Jenis Dan Struktur Perkerasan Jalan

Jenis Dan Struktur Perkerasan Jalan

Pada umumnya, perkerasan jalan terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan yang tersusun dari bawah ke atas, sebagai berikut :

  • Lapisan tanah dasar (sub grade)
  • Lapisan pondasi bawah (subbase course)
  • Lapisan pondasi atas (base course)
  • Lapisan permukaan / penutup (surface course)
Jenis Dan Struktur Perkerasan Jalan
Lapis Perkerasan Jalan Lentur

Terdapat beberapa jenis / tipe perkerasan terdiri :

  1. Flexible pavement (perkerasan lentur)
  2. Rigid pavement (perkerasan kaku)
  3. Composite pavement (gabungan rigid dan flexible pavement)

PERKERASAN LENTUR

1. Lapisan Tanah Dasar

Lapisan perkerasan jalan berfungsi untuk menerima beban lalu-lintas dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya terus ke tanah dasar. Sedangkan lapisan tanah dasar adalah lapisan tanah yang berfungsi sebagai tempat perletakan lapis perkerasan dan mendukung konstruksi perkerasan jalan diatasnya. Menurut Spesifikasi, tanah dasar adalah lapisan paling atas dari timbunan badan jalan setebal 30 cm, yang mempunyai persyaratan tertentu sesuai fungsinya, yaitu yang berkenaan dengan kepadatan dan daya dukungnya (CBR).

Lapisan tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, atau tanah urugan yang didatangkan dari tempat lain atau tanah yang distabilisasi dan lain lain.

Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :

  • Lapisan tanah dasar, tanah galian.
  • Lapisan tanah dasar, tanah urugan.
  • Lapisan tanah dasar, tanah asli.

Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut :

  • Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) akibat beban lalu lintas.
  • Sifat mengembang dan menyusutnya tanah akibat perubahan kadar air.
  • Daya dukung tanah yang tidak merata akibat adanya perbedaan sifat-sifat tanah pada lokasi yang berdekatan atau akibat kesalahan pelaksanaan misalnya kepadatan yang kurang baik.

2. Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)

Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas. Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :

  • Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
  • Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
  • Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
  • Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
  • Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.

3. Lapisan pondasi atas (base course)

Lapisan pondasi atas adalah lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan. Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :

  • Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.
  • Bantalan terhadap lapisan permukaan.

Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas ini harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda.
Dalam penentuan bahan lapis pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain, kecukupan bahan setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut bahan ke lapangan.

4. Lapisan Permukaan (Surface Course)

Lapisan permukaan adalah lapisan yang bersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan. Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :

  • Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.
  • Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapis aus).
  • Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
  • Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan di bawahnya.

Apabila diperlukan, dapat juga dipasang suatu lapis penutup / lapis aus (wearing course) di atas lapis permukaan tersebut.
Fungsi lapis aus ini adalah sebagai lapisan pelindung bagi lapis permukaan untuk mencegah masuknya air dan untuk memberikan kekesatan (skid resistance) permukaan jalan. Lapis aus tidak diperhitungkan ikut memikul beban lalu lintas.

PERKERASAN KAKU

Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan.

Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan mendistribusikan beban ke bidang tanah dasar yang cukup luas sehingga bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan.

Karena yang paling penting adalah mengetahui kapasitas struktur yang menanggung beban, maka faktor yang paling diperhatikan dalam perencanaan tebal perkerasan beton semen adalah kekuatan beton itu sendiri. Adanya beragam kekuatan dari tanah dasar dan atau pondasi hanya berpengaruh kecil terhadap kapasitas struktural perkerasannya.

Lapis pondasi bawah jika digunakan di bawah plat beton karena beberapa pertimbangan, yaitu antara lain untuk menghindari terjadinya pumping, kendali terhadap sistem drainase, kendali terhadap kembang-susut yang terjadi pada tanah dasar dan untuk menyediakan lantai kerja (working platform) untuk pekerjaan konstruksi.

Secara lebih spesifik, fungsi dari lapis pondasi bawah adalah :

  • Menyediakan lapisan yang seragam, stabil dan permanen.
  • Menaikkan harga modulus reaksi tanah dasar (modulus of sub-grade reaction = k), menjadi modulus reaksi gabungan (modulus of composite reaction).
  • Mengurangi kemungkinan terjadinya retak-retak pada plat beton.
  • Menyediakan lantai kerja bagi alat-alat berat selama masa konstruksi.
  • Menghindari terjadinya pumping, yaitu keluarnya butir-butiran halus tanah bersama air pada daerah sambungan, retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas terakumulasi di bawah pelat.

PERKERASAN KOMPOSIT

Perkerasan komposit merupakan gabungan konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement) dan lapisan perkerasan lentur (flexible pavement) di atasnya, dimana kedua jenis perkerasan ini bekerja sama dalam memilkul beban lalu lintas. Untuk ini maka perlu ada persyaratan ketebalan perkerasan aspal agar mempunyai kekakuan yang cukup serta dapat mencegah retak refleksi dari perkerasan beton di bawah.

Berat Jenis Bitumen

Berat Jenis Bitumen
BERAT JENIS ASPAL

Aspal adalah suatu campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral. Bitumennya sendiri adalah bahan yang berwarna cokelat hingga hitam, keras hingga cair, dan mempunyai sifat lekat yang baik  dan tidak larut dalam air.

Dalam perkerasan jalan bitumen berfungsi sebagai pelekat dan pengisi rongga antara agregat halus dan agregat kasar.

Berat jenis bitumen atau ter adalah perbandingan antara berat bitumen terhadap air suling pada suhu tertentu dengan volume yang sama. Berat jenis aspal merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam mendesain perencanaan campuran aspal dan agregat. Syarat minimal berat jenis adalah 1,00 gr /cc.

Berat jenis dari bitumen sangat tergantung dari nilai peneterasi dan suhu bitumen itu sendiri. Macam –macam berat jenis dan kisaran nilainya :

  1. Penetration grade bitumen dengan berat jenis antara 1,010 (untuk bitumen dengan penetrasi 300) sampai dengan 1,040 ( untuk bitumen dengan penetrasi 25 )
  2. Bitumen yang telah teroksidasi dengan berat jenis antara 1,015 – 1,035
  3. Hard grades bitumen dengan berat jenis antara 1,045 – 1,005
  4. Cutback grades dengan berat jenis antara 0,992 – 1,007

Pada pengujian ini bahan yang digunakan adalah Aspal  AC 60/70 produksi PT. Pertamina.

Peralatan yang digunakan untuk percobaan ini adalah:

  1. Termometer
  2. Bak peredam dilengkapi pengatur suhu dengan ketelitian (25 ± 0,1) o C
  3. Piknometer
  4. Air suling sebanyak 1000 cm3
  5. Bejana gelas
Air Destilasi
Air Destilasi
Bak Pemanas
Bak Pemanas
Piknometer
Piknometer
Thermometer
Thermometer
Timbangan Digital
Timbangan Digital

Cara pelaksanaan pengujian ini adalah sebagai berikut :

  1. Isi bejana dengan air suling sehingga diperkirakan bagian atas piknometer yang tidak terendam 40 mm. Kemudian rendam dan jepit bejana dalam bak perendam, sehingga terendam sekurang-kurangnya 100 mm atau suhu bak perendam pada suhu 25 o C.
  2. Bersihkan, keringkan dan timbang piknometer (A).
  3. Angkat bejana dari bak perendam dan isilah piknometer dengan air suling kemudian tutup piknometer tanpa ditekan.
  4. Letakkan piknometer dalam bejana dan tekan penutup sampai rapat; kembalikan bejana isi piknometer kedalam bak perendam, biarkan ± 30   menit, kemudian angkat piknometer dan keringkan dengan lap. Timbang piknometer (B).
  5. Tuang benda uji kedalam piknometer yang kering sampai ¾ bagian.
  6. Biarkan piknometer sampai dingin, waktu tidak kurang dari 40 menit, timbang dengan penutupnya (C).
  7. Isi piknometer dengan benda uji dan air suling, tutup tanpa ditekan, diamkan agar gelembung udara keluar.
  8. Angkat bejana dari bak perendam dan letakkan piknometer didalamnya, kemudian tekan penutup hingga rapat. Masukkan dan diamkan bejana kedalam bak perendam selam sekurang-kurangnya 30 menit. Angkat, keringkan, timbang (D).

Setelah percobaan didapatkan hasil sebagai berikut :

  1. Data praktikum :

    Data Praktikum
  2. Perhitungan :

    Perhitungan

Dari hasil percobaan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Menurut SNI 06-2441-1991 , syarat minimum berat jenis aspal adalah 1 gr/cc. Dengan didapat hasil bahwa berat jenis rata-rata bitumen percobaan adalah 1,06 gr/cc. Untuk percobaan tersebut aspal memenuhi persyaratan, sehingga aspal dapat digunakan dalam campuran beraspal.

sumber : 
https://www.ilmutekniksipil.com/perkerasan-jalan-raya/berat-jenis-bitumen

Lapisan Tipis Aspal Beton (LATASTON)

Lapisan Tipis Aspal Beton (LATASTON)

Lataston adalah campuran aspal padat dengan gradasi tidak menerus untuk jalan yang lalulintasnya ringan, diletakkan sebagai lapis permukaan di atas dasar yang dipersiapkan dari permukaan perkerasan yang direkonstruksi. Campuran ini terdiri dari agregat bergradasi timpang, filler dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yang dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas.

Syarat teknis

A. Bahan

Bahan yang digunakan untuk LATASTON, harus mengikuti persyaratan sebagaimana yang disebutkan dalam spesifikasi ini.

1. Agregat

Agregat yang digunakan sebagai bahan campuran, dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu agregat kasar dan agregat halus.

Agregat kerikil yang digunakan bisa batu pecah atau kerikil dengan persyaratan sebagaimana disebutkan dibawah :

  • Gradasi (PB.0201-76) harus seperti berikut :
Persyaratan Gradasi
  • Keausan agraget bila diperiksa dengan mesin Los Angels pada putaran 500 (PB.0206-76), maksimum 40 %.
  • Kelekatan terhadap aspal (PB. 025-76), maksimum 95 %.

Agregat yang digunakan berpasir, screening (hasil mesin pemecah batu) atau campuran dari kedua bahan tersebut yang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • Gradasi (PB.0201-76) harus sebagaimana yang tertera dibawah ini :

    Persyaratan gradasi
  • Bahan Pengisi (filter)

Bahan pengisi dapat berupa abu kapur, semen portland, abu batu yang harus mempunyai ukuran butir100 % lolos saringan 30 dan minimum 70 % lolos saringan 200, serta non plastis.

2. Aspal Keras

Aspal keras yang digunakan dapat berupa aspal keras Pen 60 atau Pen 80 yang harus memenuhi persyaratan sebagaimana tertera dibawah ini :

Persyaratan aspal keras


B, Campuran

Jumlah aspal dalam campuran ditentukan dengan cara marshall (PC.0201-76)

Cara marshall dilakukan terhadap mortar (campuran agregat halus filter, dan aspal) dengan 2 x 50 tumbukan sehingga didapatkan hasil-hasil sebagai berikut :

Stabilitas (kg)                        : 450 – 750

Rongga dalam campuran (%)     : 4 – 8

Marshall quotient (kg/mm)    : 150 – 300

Ketentuan Marshall

Dimana :

A = Kadar aspal optimum mortal (%)

B = Kadar aspal dalam campuran total (%)

S = Persen agregat kasar (%)

C. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan harus terdiri dari :

1. Peralatan Pencampur

  • Unit pencampur aspal (A.M.P)
  • Mesin pemuat (shovel loader)
  • Roda dorong, sekop, pahat dan alat bantu lainnya.

2. Peralatan Lapangan

  • Mesin penghampar (asphalt finisher)
  • Mesin gilas
  • Mesin gilas tandem (sholvel loader)
  • Mesin gilas roda karet
  • Truck (dump truck)
  • Mesin penyemprot aspal (asphal sprayer)
  • Mesin penyapu debu (power broom atau compresor)
  • Sekop, garu, sikat, balok kayu, roda dorong dan alat bantu lainnya.

D. Produksi Campuran

  1. Perbandingan bahan campuran untuk produksi harus sesuai dengan rumusan perbandingan campuran berdasarkan pencampuran percobaan (trial mix).
  2. Pencampuran harus dilaksanakan sebaik-baiknya sampai bahan tercampur baik dan merata.
  3. Agregat dipanaskan maksimum 175 ° C.
  4. Dalam memproduksi campuran, harus memperhatikan kemampuan dan kondisi/cuaca dilapangan, serta harus selalu melakukan kontrol mutu campuran.
  5. Temperatur aspal harus lebih kecil atau sama dengan temperatur agregat, dengan perbedaan maksimum 15 ° C. Temperatur campuran ditentukan oleh jenis aspal yang digunakan, dengan ketentuan sebagai berikut :
  • Untuk Pen 60 : 130 ° C – 165 ° C.
  • Untuk Pen 80 : 124 ° C – 162 ° C.

E. Persiapan Lapangan

Sebelum penghamparan dilaksanakan, harus dipenuhi beberapa ketentuansebagai berikut :

  1. Permukaan jalan lama harus rata, bila terdapat lubang harus ditutup, permukaan yang tidak rata harus diberi lapisan perata (leveling) dan dipadatkan.
  2. Permukaan harus bersih, bebas dari debu dan kotoran lainnya serta kering
  3. Permukaan harus diberi lapisan pengikat (tack coat) sebanyak 0,35 – 0,55 l/m² sesuai dengan kondisi jalan yang ada dan untuk bahan lapisan pengikat digunakan aspal emulsi atau aspal cair.
  4. Selama pelaksanaan harus memperhatikan cuaca yang mungkin akan mempengaruhi mutu hasil pekerjaan.

F. Pengangkutan

  1. Pengangkutan harus dilakukan dengan truck, yang baknya terbuat dari metal, rapat bersih dan telah disemprotkan dengan air sabun/fuel oil/larutan kapur, untuk mencegah melekatnya aspal pada bak truck.
  2. Selama pengangkutan, campuran ditutup dengan terpal agar campuran-campuran tersebut mempunyai temperatur yang disyaratkan dan terhindar dari bahan-bahan yang tidak dikehendaki.

G. Penghamparan

  1. Penghamparan hendaknya dimulai dari posisi terjauh dari kedudukan unit pencampur aspal (AMP) dan berakhir diposisi terdekat dengan unit pencampur aspal (AMP).
  2. Hamparan disesuaikan degan Gambar Rencana
  3. Campuran harus dihampar pada temperatur minimum 124 ° C.

H. Pemadatan

1. Pemadatan dilakukan dalam tiga tahap

  • Pemadatan awal dengan mesin gilas tandem
  • Pemadatan antara dengan mesin gilas rioda karet
  • Pemadatan akhir dengan mesin gilas tandem

2.   Temperatur pemadatan adalah :

  • Temperatur pemadatan awal minimum 120 ° C.
  • Temperatur pemadatan akhir minimum 60 ° C.

3. Pada bagian yang lurus penggilasan dimulai dari tepi hamparan sejajar as jalan menuju kebagian yang tinggi.

4. Pada bagian tikungan, penggilasan dimulai dari bagian yang rendah sejajar as jalan menuju kebagian yang tinggi.

5. Pada bagian tanjakan dan turunan harus dimulai dari bagian yang rendah sejajar as jalan menuju kebagian yang tinggi

6. Jumlah lintasan pada tiap tahap pemadatan ditentukan berdasarkan penggilasan percobaan.

7. Tebal pada yang dihasilkan harus sesuai dengan Gambar Rencana dengan toleransi sesuai dengan petunjuk.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/perkerasan-jalan-raya/lapisan-tipis-aspal-beton-lataston

Laburan Aspal Dua Lapis (Burda)

Laburan Aspal Dua Lapis (Burda)

Laburan aspal dua lapis adalah lapisan pada permukaan jalan yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal maksimum 35 mm.

Burda berfungsi untuk :

  1. Membuat permukaan tidak berdebu
  2. Mencegah masuknya air dari permukaan perkerasan
  3. Memperbaiki tekstur permukaan perkerasan

Burda mempunyai sifat antara lain :

  1. Kedap air
  2. Kenyal
  3. Tidak diberi nilai struktural
  4. Tidak licin
  5. Digunakan pada jalan yang belum atau yang telah beraspal

Pelaburan aspal ini umumnya dihampar di atas lapis pondasi agregat kelas A yang sudah diberi lapis resap ikat atau lapisan beraspal. Selain itu bisa digunakan untuk lalu lintas ringan sampai berat.

PERENCANAAN

1. Bahan

Spesifikasi : SNI 03-6750-2002

Syarat agregat adalah sebagai berikut :

  1. Agregat yang akan digunakan untuk BURDA harus terdiri dari batu pecah hasil mesin pemecah batu yang berukuran seragam mendekati bentuk kubus
  2. Agregat yang akan digunakan untuk BURDA harus lebih bersih, kuat, awet, serta bebas debu, lempung atau bahan lainnya yang mengganggu pelekatan dengan aspal.

Aspal yang dapat digunakan sebagai bahan BURDA dapat salah satu dari jenis :

  1. Aspal keras jenis penetrasi 120/I50
  2. Aspal cair jenis MC-800 dan MC-3000
  3. Aspal emulsi kationik jenis CRS-1 dasn CRS-2

Takaran pemakaian rata-rata bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan atau yang disemprot secara manual, harus didefinisikan sebagai volume bahan aspal yang digunakan dibagi luas bidang yang disemprot. Takaran pemakaian yang dicapai harus dihitung sebelum lintasan penyemprotan atau penyemprotan secara manual berikutnya dimulai dan bila perlu diadakan penyesuaian untuk penyemprotan berikutnya.

Tabel Suhu Penyemprotan
Tabel Suhu Penyemprotan

Kekentalan (viskositas) aspal untuk penyemprotan adalah 0.3 – 0.6 Poisses. Aspal yang dipanaskan pada temperatur penyemprotan selama lebih dari 10 jam pada suhu penyemprotan seperti ditentukan pada tabel di atas atau telah dipanaskan melebihi 200 ºC, harus ditolak.

2. Alat

Jenis alat manual

  • ketel aspal
  • kotak besi untuk kalibrasi aspal distributor
  • tongkat berskala pengukur volume (dipstick)
  • skop, pahat dan alat bantu lainnya
  • kereta dorong, skop, sapu, sikat ijuk, dan alat bantu lainnya

Jenis alat mesin

  • pembersih permukaan jalan (compressor power broom)
  • penyemprot aspal (asphalt distributor, hand sprayer)
  • penebar agregat penutup (chip spreader)
  • truk jungkit (dump truck)
  • pemadat roda karet (pneumatic tyre roller)

Perencanaan Campuran Untuk Perkerasan Jalan

Lapisan aspal yang baik harus memenuhi 4 syarat yaitu stabilitas, durabilitas, fleksibilitas dan tahanan geser. Dengan demikian harus direncanakan campuran yang meliputi gradasi dan kadar aspal sehingga dapat dihasilkan lapis perkerasan yang memenuhi 4 persyaratan tersebut yaitu :

  • Kadar aspal cukup memberikan kelenturan
  • Stabilitas cukup memberikan kemampuan memikul beban sehingga tak terjadi deformasi yang merusak
  • Dapat memberikan kemudahan kerja sehingga tak terjadi segregasi
  • Dapat menghasilkan campuran yang sesuai dengan persyaratan lapis perkerasan yang direncanakan

Gradasi

Terdapat beberapa gradasi yaitu

  • Gradasi baik dengan susunan gradasi rapat (dense graded)
  • Gradasi baik dengan susunan terbuka (open graded)
  • Gradasi senjang / celah / gap graded. Biasanya digunakan pada tipe campuran HRA

Marshall Test

Pemeriksaan dengan marshall test dimaksudkan untuk menentukan ketahanan / stabilitas terhadap kelelahan plastis / flow dari campuran aspal dan agregat. Kelelahan plastis adalah keadaan perubahan bentuk suatu campuran yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01″

Alat marshall merupakan alat tekan yang dilengkapi proving ring dengan kapasitas 2500 kg dan arloji pengukur untuk mengukur stabilitas campuran dan kelelahan. Persiapan benda uji sampai pemeriksaan dengan alat marshall diperoleh data sbb :

  1. Kadar aspal dinyatakan dengan bilangan sampai satu desimal
  2. Berat volume (t/m³)
  3. Stabilitas dinyatakan dalam bilangan bulat
  4. Kelelahan
  5. VIM, indikator dan durabilitas dinyatakan sampai satu desimal
  6. VMA, indikator dari durabilitas dinyatakan dalam bilangan bulat
  7. Marshall quetiont, indikator kelenturan yang potensial terhadap retak
  8. Penyerapan aspal, persen terhadap campuran sehingga diketahui kadar aspal efektif
  9. Tebal film aspal (mm), indikator durabilitas
  10. Kadar aspal efektif, dinyatakan sampai satu desimal


Kadar Aspal Optimum

Karena fungsinya yaitu sebagai perekat dan pengisi, maka jumlah aspal yang digunakan dalam campuran harus tepat atau optimum. Salah satu cara yang dipakai adalah metoda asphalt institute, yang didasarkan kepada hasil dari marshall test. Sehingga kondisi aspal optimum yang ditentukan adalah kadar aspal dalam menahan beban hingga terjadi kelelahan plastis. Selain itu sebelumnya juga telah dihitung prosentase rongga dalam campuran maupun pada agregat karena hal tersebut juga diperhitungkan dalam menentukan KAO. Sebagai ilustrasi penentuan KAO pada suatu campuran sebagai berikut :

Kadar Aspal Optimum
kadar aspal optimum

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/perkerasan-jalan-raya/perencanaan-campuran-untuk-perkerasan-jalan

Pengujian Daktilitas Bahan Bitumen

Pengujian Daktilitas Bahan Bitumen

Langkah langkah pengujian

langkah - langkah pengujian 

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kekenyalan aspal. Kekenyalan aspal dapat dinyatakan dengan panjang pemuluran aspal yang dapat tercapai hingga sebelum putus. Nilai daktilitas tidak dapat  menyatakan kekuatan tarik aspal.

Sifat reologis daktilitas digunakan untuk mengetahui ketahanan aspal terhadap retak dalam penggunaanya sebagai lapisan perkerasan. Aspal yang memiliki daktilitas yang rendah akan mengalami retak-retak dalam penggunaannya karena lapisan perkerasan mengalami perubahan suhu agak tinggi. Oleh sebab itu aspal perlu memiliki daktilitas yang cukup tinggi.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengukur jarak terpanjang yang dapat terbentuk dari bahan bitumen pada 2 cetakan kuningan, karena penarikan dengan mesin uji, sebelum bahan bitumen tersebut menjadi putus. Pemeriksaan ini dilakukan pada suhu 25 ± 0,5 °C dan dengan kecepatan tarik mesin 0 mm per menit (dengan toleransi ± 5%).

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui salah satu sifat mekanik bahan bitumen yaitu kekenyalan yang diwujudkan dalam bentuk kemampuannya untuk ditarik yang memenuhi syarat jarak tertentu (dalam pemeriksaan ini adalah 100 cm), maka dianggap bahan ini mempunyai sifat daktilitas yang tinggi.

Mesin uji biasanya mempunyai batas alat ukur hingga 100 cm. Hal yang sering terjadi dalam pemeriksaan daktilitas adalah bahwa jarak penarikan sampel umumnya selalu di atas 100 cm yang menunjukkan bahwa sampel ini mempunyai daktilitas tinggi. Permasalahan yang timbul akibat keterbatasan mesin uji dalam mengukur jarak putus sampel, kita tidak mengetahui seberapa besar daktilitas yang dimiliki benda uji. Oleh karena itu, masih diperlukan jenis pemeriksaan lain yang dapat mengukur daktilitas maksimum bahan bitumen yang melewati jarak 100 cm.

Peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam pengujian ini adalah:

  1. Cetakan kuningan. Cetakan ini terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian yang disebut clip dengan sebuah lubang pada bagian belakang dan bagian samping cetakan yang berfungsi sebagai pengunci clip sebelum cetakan ini diuji. Pada saat pengujian, bagian samping harus dilepas.
  2. Bak perendam, isi 10 liter yang dapat mempertahankan suhu pemeriksaan dengan toleransi yangn tidak lebih dari 0,5°C dari suhu pemeriksaan. Kedalaman air pada bak ini tidak boleh kurang dari 100 mm di bawah permukaan air. bak tersebut diperlengkapi dengan pelat dasar berlubang yang diletakkan 50 mm dari dasar bak perendam untuk meletakkan benda uji. Air dalam bak perendam harus bebas dari oli dan kotoran lain serta bebas dari bahan organik lain yang mungkin tumbuh di dalam bak.
  3. Termometer.
  4. Mesin uji yang dapat menjaga sampel tetap terendam, tidak menimbulkan getaran selama pemeriksaan dan dapat menarik benda uji dengan kecepatan tetap.
  5. Alat pemanas, untuk mencairkan bitumen keras.
  6. Metil alkohol teknik dan sodium klorida.

Acuan pengujian yang umum digunakan adalah dari SK SNI M 18-1990F, yang mengadopsi dari AASHTO T 51-89 dan ASTM D 113-79.

Persiapan benda uji :

  1. Susun bagian-bagian cetakan kuningan.
  2. Lapisi atas dan bawah cetakan serta permukaan pelat alas cetakan dengan bahan campuran dextrin dan gliserin atau amalgam.
  3. Pasang cetakan daktilitas diatas pelat dasar.
  4. Panaskan contoh bitumen kira-kira 100 gram sehingga cair dan dapat dituang. Untuk menghidarkan pemanasan setempat, lakukan dengan hati-hati. Pemanasan dilakukan sampai suhu antara 80 sampai 100 °C diatas titik lembek.
  5. Tuangkan contoh bitumen dengan hati-hati ke dalam cetakan daktilitas dari ujung ke ujung hingga penuh berlebihan.
  6. Dinginkan cetakan pada suhu ruang 30 sampai 40 menit lalu pindahkan seluruhnya ke dalam bak perendam yang telah disiapkan pada suhu pemeriksaan (sesuai dengan spesifikasi) selama 30 menit.
  7. Ratakan contoh yang berlebihan dengan pisau atau spatula yang panas sehingga cetakan terisi penuh dan rata.

Langkah-langkah pengujian :

  1. Sampel didiamkan pada suhu 25 °C dalam bak perendam selama 85 sampai 95 menit, kemudian lepaskan cetakan sampel dari alasnya dan lepaskan bagian samping dari cetakan.
  2. Pasang cetakan daktilitas yang telah terisi sampel pada alat mesin uji dan jalankan mesin uji sehingga akan menarik sampel secara teratur dengan kecepatan 5 cm/menit sampai sampel putus. Perbedaan kecepatan ± 5% masih diijinkan.
  3. Bacalah jarak antara pemegang cetakan pada saat sampel putus (dalam cm). Selama percobaan berlangsung sampel harus terendam sekurang-kurangnya 2,5 cm di bawah permukaan air dan suhu harus dipertahankan tetap (25 ± 0,5 °C).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian adalah apabila pada saat pengujian, sampel menyentuh dasar mesin uji atau terapung pada permukaan air, maka pengujian dianggap gagal dan tidak normal. Untuk menghindari hal semacam itu maka berat jenis air harus disesuaikan dengan berat jenis sampel dengan menambahkan metil alkohol atau sodium klorida. Apabila pemeriksaan normal tidak berhasil setelah dilakukan 3 kali, maka dilaporkan bahwa pengujian daktilitas bitumen tersebut gagal.