KATEGORI PRODUK
klik gambar dibawah untuk melihat rincian produk dalam kategori













Keselamatan dan Kesehatan Kerja Alat Angkat

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Alat Angkat

 110

Proses pembangunan bangunan sipil (gedung, jalan, jembatan, dll) adalah untuk mewujudkan perencanaan menjadi kenyataan di lapangan. Sehingga produk memenuhi syarat.

  1. Tepat waktu
  2. Tepat biaya
  3. Tepat mutu

Maksud dan Tujuan K3

  • Mencegah, mengurangi bahkan menghilangkan resiko kecelakaan kerja (zero accident).
  • Mencegah terjadinya cacat/kematian pada tenaga kerja.
  • Mencegah kerusakan tempat dan peralatan kerja.
  • Mencegah pencemaran lingkungan dan masyarakat disekitar tempat kerja.
  • Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yg menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja.

Kecelakaan Kerja dan Cara Pencegahannya

—Kecelakaan kerja adalah kejadian yang menimpa seseorang ditempat kerja yang berdampak buruk pada pekerja, pengusaha dan lingkungan tempat kerja.

Penyebab Dasar Kecelakaan

  1. Pengoperasian yang bukan wewenangnya.
  2. Kesalahan pengoperasian
  3. Kesalahan pengamanan
  4. Pengoperasian kecepatan tinggi
  5. Alat pengaman yang tidak beroperasi
  6. Peralatan pengaman yang
  7. Menggunakan peralatan yang tidak tepat
  8. —Menggunakan peralatan yang kurang tepat
  9. Kesalahan menggunakan alat pengaman diri
  10. —Tidak tepat melakukan pekerjaan

—Alat angkat ada 2 jenis yaitu

  1. Tower Crane
  2. Passenger Hoist

Tower Crane

Tower crane adalah alat pengangkat yang biasa digunakan didalam proyek konstruksi. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, memindahkan secara horizontal, kemudian menurunkan material ditempat yang diinginkan.

Pada prinsipnya, tower crane merupakan pesawat pengangkat dan pengangkut yang memiliki mekanisme gerakan yang cukup lengkap, yakni : kemampuan mengangkat muatan (lifting) menggeser (trolleying), menahannya tetap di atas bila diperlukan dan membawa muatan ke tempat yang ditentukan (slewing dan travelling). Operasi kerja yang identik dan muatan yang seragam yang diangkutnya, memungkinkan fasilitas transport dilakukan secara otomatis. Bukan hanya untuk memindahkan, melainkan juga untuk proses bongkar muatan.

Sementara itu, untuk kapasitas tower crane tergantung beberapa faktor. Jika material yang diangkut oleh crane melebihi kapasitasnya, maka akan terjadi jungkir. Oleh karena itu, berat material yang diangkut harus mengikuti ketentuan dan perlu memperhatikan faktor-faktor, antara lain :

  1. Kekuatan angin terhadap alat
  2. Ayunan beban pada saat dipindahkan
  3. Kecepatan pemindahan material
  4. Pengereman mesin dalam pergerakannya

Untuk jib atau boom, merupakan lengan tower crane yang terdiri dari elemen-elemen besi yang tersusun menjadi satu bagian rangka batang. Pemasangan jib harus sesuai dengan keperluan dan persyaratannya, baik dengan panjang yang standar maupun yang mencapai maksimum. Pemasangan jib ini, selanjutnya mempengaruhi terhadapa beban yang diangkat. Untuk tiap panjang jib tertentu, ada batasan beban maksimum.

Selain jib, juga terdapat counter jib yang berfungsi sebagai jib penyeimbang terhadap boom yang terpasang. Counter jib dilengkapi counter weight, yang berfungsi sebagai bebannya.

Untuk hoist adalah bagian tower crane yang berfungsi sebagai alat angkut arah vertikal. Sedangkan trolley, adalah bagian tower crane yang berfungsi sebagai alat angkut tower crane arah horisontal. Sedangkan seling merupakan bagian tower crane yang berupa kabel baja dan menjadi bagian hoist. Pemakaian seling bisa diubah-ubah diameternya atau dapat ditambahkan(double-seling), tergantung pada kebutuhan di lapangan.

Pada Tower Crane terdapat dua buah limit switch

Switch beban maksimum : untuk memonitor pada kabel dan memastikan tidak terjadinya overload

Switch momen beban :  untuk memastikan operator tidak melebihi rating ton-meter bagi crane, ketika beban bergerak pada jib. Sebuah alat yang dinamakan “cat head assembly” pada slewing unit, dapat mendeteksi secara dini bila terjadi kondisi overload.

Peralatan K3 yang diperlukan adalah Full Body Hardness yang terdiri dari :

  1. Helm Kerja
  2. Kacamata/Glass Eye
  3. Wearpack
  4. Safety Belt/Sabuk Pengaman
  5. Sepatu

Macam-macam Crane

Passenger Hoist

Passenger Hoist adalah alat yang digunakan untuk memudahkan pekerjaan dalam proyek. Fungsi alat ini sebagai alat transfer material maupun pekerja/tukang. Untuk pekerjaan di bangunan yang tinggi.

Macam-macam passenger hoist

Gambar alat-alat K3

Simbol-simbol K3 di Lapangan

Klasifikasi Menurut Jenis Kecelakaan

  • Terjatuh
  • Tertimpa benda jatuh
  • Terkena benda-benda
  • Terjepit oleh benda
  • Gerakan melebihi kemampuan
  • Pengaruh suhu tinggi
  • Terkena arus listrik
  • Kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi

Penyebab

Hasil analisa menunjukkan bahwa penyebab utama kecelakaan kerja crane ditinjau dari segi manusia yaitu tidak adanya orang yang memberi aba-aba, sedangkan ditinjau dari segi lingkungan kerja yaitu kondisi cuaca pada daerah lokasi kerja crane, dan ditinjau dari segi peralatan yaitu kapasitas beban yang diangkut melebihi kapasitas beban crane.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/keselamatan-dan-kesehatan-kerja/keselamatan-dan-kesehatan-kerja-alat-angkat

Alat Bantu Pelayaran

Alat Bantu Pelayaran

Selain sebagai pemandu pelayaran, alat ini juga berfungsi sebagai peringatan pada kapal akan adanya bahaya, seperti karang, tempat-tempat dangkal, dan juga sebagai pemandu agar kapal berlayar dengan aman serta untuk memandu kapal memasuki pelabuhan. Alat pemandu Pelayaran juga diperlukan untuk :

  1. Keselamatan Pelayaran Kapal
  2. Efesiensi Pelayaran Kapal
  3. Kenyamanan Pelayaran Kapal

Alat ini dapat dipasang di :

  1. Sungai
  2. Saluran
  3. Pelabuhan
  4. Sepanjang Pantai

Alat pemandu pelayaran dapat berupa :

  • Konstruksi Tetap
  • Konstruksi Terapung

Yang dilengkapi dengan Menara Api, Bel, Bunyi Peringatan Lain, dan Radar. Alat Pemandu Pelayaran tersebut semuanya harus terstandarisasi.

A. Alat Pemandu Pelayaran Konstruksi Tetap

Dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

  1. Rambu pelayaran pada pier, wharf, dolphin, dan sebagainya. Untuk mengetahui batas-batas dari Pier, Wharf, Dolpin Penambat dan Bangunan-bangunan lainnya Rambu Suar biasa ditempatkan pada ujung-ujung bangunan fasilitas tersebut. Untuk Dolpin atau bangunan yang kecil ditempatkan satu buah rambu. Biasanya rambu yang mengeluarkan cahaya (lampu) tersebut berwarna putih yang dipasang pada bangunan. Cahaya tersebut biasanya menggunakan sumber cahaya listrik
  2. Rambu Suar pada pemencah gelombang, pantai, dan sebagainya.Rambu ini merupakan konstruksi tetap yang ditempatkan di ujung pemecah gelombang pada mulut pelabuhan dan di tempat-tempat yang berbahaya bagi kapal. Bangunan ini dibuat dari konstruksi rangka baja bebentuk menara dengan sumber cahaya berada di puncak bangunan. Sumber cahaya bisa berupa tenaga listrik dari pantai, baterai, atau gas acetyline.
  3. Mercu Suar adalah konstruksi menara yang tinggi dengan lampu suar yang berada dipuncaknya. Bangunan ini biasanya didirikan disuatu titik dipantai untuk memandu kapal yang akan menuju pelabuhan. Mercu suar juga dapat ditempatkan di karang, gosong atau ditempat yang berbahaya untuk pelayaran. Mercu Suar bisa dibuat dari pasangan batu dan konstruksi baja, dan harus cukup kuat untuk bisa menahan serangan gelombang. Menara Mercu Suar  juga harus cukup tinggi sehingga lampu suar dapat dilihat oleh kapal yang sedang mendekat, paling tidak dari jarak 32 km, dengan memperhatikan bentuk bumi yang bulat. Sehingga untuk dapat terlihat dari kapal yang berada pada suatu jarak tertentu dari Mercu suar, dapat dihitung dengan rumus berikut :

D = 3.86 (√H + √H1)

Dimana :

D = Jarak Horizontal antara kapal dan mercu suar (km)

H = Tinggi mercu suar (m)

H1 = tinggi mata yang memandang di atas permukaan laut (m)

Cahaya lampu suar bisa berwarna atau berwarna kelap-kelip, dan sumber tenaganya bisa berasal dari arus listrik, baterai tau gas acetyline. Ada juga dari beberapa mercu suar yang dilengkapi dengan sinyal yang dapat memberikan berbagai macam suara yang digunakan apabila cuaca berkabut. Kadang mercu suar juga dilengkapi dengan stasiun radio yang dapat mengirimkan sinyal ke segala arah untuk menuntun kapal.

B. Alat Pemandu Pelayaran Konstruksi Terapung

Alat pemandu tipe ini berupa pelampung (buoy) yang  dilengkapi dengan alat pemberi tanda peringatan yang bisa berupa lampu, pemantul gelombang   radar (radar reflektor), bel atau bunyi peringatan  lainnya, yang tergantung pada penggunaannya yang di letakkan di suatu tempat tertentu. Pada tipe ini alat pemandu pelayaran dapat berupa kapal rambu suar atau pelampung dengan bentuk yang telah distandarisasi.

  1. Kapal Rambu Suar Kapal Rambu Suar adalah suatu Kapal kecil dengan bobot 500 ton atau lebih yang bisa diawaki atau tidak diawaki yang dilengkapi dengan lampu otomatis dan sinyal kabut yang dipasang ditempat-tempat yang sulit untuk dibangun Mercu suar. Lampu sinyal biasa ditempatkan pada ketinggian 9-12 m diatas muka air. Untuk membedakan dengan kapal-kapal lain, pada lambung kapal rambu suar biasanya dicat merah dengan nama stasiun yang d1cat putih pada kedua sisinya.
  2. Pelampung (bouy) Pelampung (buoy) ini bisa dilengkapi dengan lampu, radar pemantul, bel, atau bunyi peringatan yang disesuaikan dengan penggunaannya. Jenis pelampung rambu suar yang ada antara antara lain adalah pelampung bebrbentuk tiang (spar buoy), kaleng (can buoy), nun buiy, bola (spherical buoy), pelampung bercahaya, dan sebagainya.

a. Pelampung berbentuk tiang pelampung berbentuk tiang adalah pelampung yang tidak bercahaya dan bebrbentuk tiang panjang dan tipis yang terbuat dari kayu atau logam, yang panjangnya bisa berkisar antara 6 m dan 15 m, disertai dengan tampak di permuaan air dan diikat dengan rantai yang dihubungkan dengan beban yang diletakkan didasar laut.

Pelampung jenis ini biasa digunakan pada kanal dengan arus yang cepat atau pasang surut yang besar, juga sebagai tanda yang bersifat sementara.

b. Pelampung Berbentuk Kaleng (Can Buoy)

Pelampung berbentuk kaleng (Can buoy) adalah pelampung yang tidak dilengkapi dengan cahaya,  terbuat dari logam dengan dicat hitam dan diberi nomor dengan penomoran ganjil. Pelampung berbentuk kaleng (Can buoy) biasanya diletakkan disebelah kiri pelabuhan  atau disebelah kiri alur apabila kapal masuk dari arah laut. Bentuk dari Can Buoy adalah rata pada bagian atasnya.

c. Nun Buoy

Nun Buoy adalah pelampung yang tidak dilengkapi dengan cahaya yang terbuat dari logam dengan dicat merah dan diberi nomor dengan penomoran genap. Nun Buoy biasanya diletakkan disebelah kanan kapal atau disebelah kanan alur apabila kapal masuk dari arah laut. Bentuk dari Nan Buoy adalah kerucut pada bagian yang berada diatas permukaan air.

d. Pelampung Berbentuk Bola (Spherical Buoy)

Pelampung berbentuk bola (Spherical Buoy) mempunyai bentuk seperti bola dan biasanya diletakkan pada tempat khusus di kanal pada tempat yang dangkaldan terbuat dari logam yang dicat menurut posisinya. Pelampung jenis ini kadang-kadang diberi lampu dan kadang juga tidak.

e. Pelampung Bercahaya (Lighted buoy)

Pelampung bercahaya (Lighted buoy) adalah pelampung yang bercahaya dan mempunyai kerangka (menara) yang tinggi atau konstruksi menara yang terletak pada konstruksi dasar yang terapung yang dilengkapi dengan pelampung yang stabil dan mampu menahan angin. Pelampung ini dicat dan diberi nomor menurut posisinya sepanjang kanal atau tempat lainnya.

f. Pelampung dengan Tanda Suara (Sound Warning Buoy)

Pelampung dengan tanda suara (Sound Warning Buoy) adalah pelampung yang dilengkapi dengan cahaya ataupun tidak, yang mempunyai kerangka logam yang tinggi dan terletak pada dasar yang terapung dengan dilengkapi pelampung yang bercahaya. Apabila pelampung tersebut dilengkapi dengan cahaya, lampu akan diletakkan pada pada puncak konstruksi sedangkan sumber suaranya akan diletakkan dibawahnya. Sumber suara bisa berupa bel, gong, peluit atau terompet, yang dioperasikan sesuai gerakan pelampung atau secara otomatis. Pelampung ini digunakan pada tempat yang khusus atau tersembunyi untuk memberikan peringatan pada kapal yang terkena kabut  baik siang maupun malam hari.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/pelabuhan/alat-bantu-pelayaran

Pasang Surut Air Laut

Pasang Surut Air Laut
 129

Pasang surut adalah suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik antara benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pasang laut menyebabkan perubahan kedalaman perairan dan mengakibatkan arus pusaran yang dikenal sebagai arus pasang, sehingga perkiraan kejadian pasang sangat diperlukan dalam navigasi  pantai.

Panjang periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit. Pasang surut terutama di hasilkan oleh adanya tarik menarik antara dua tenaga yang terjadi di lautan, gaya-gaya tersebut adalah gaya sentrifugal (dorongan kearah luar pusat rotasi) bumi dan gaya gravitasi yang berasal dari bulan dan matahari. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam pembangkitan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat dengan bumi dari pada jarak matahari.

Surut
Pasang

Pasang surut dapat dibagi dalam 2 kategori yaitu

1. Pasang Purnama

Pasang purnama terjadi  ketika bumi, bulan dan matahari berada pada garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah

2. Pasang Perbani

Pasang perbani terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Akibatnya akan dihasilkan pasang naik yang rendah dan pasang surut yang tinggi

Pemanfaatan Energi Pasang Surut

Pasang surut menggerakan air dalam jumlah besar setiap harinya dan pemampaatanya dapat menghasilkan energi yang cukup besar, dalam sehari bisa terjadi hingga dua kali siklus pasang surut. Oleh karena itu siklus dapat diperkirakan (kurang lebih setiap 12,5 jam sehari).

1. Dam Pasang Surut (Tidal Barrages)

Dam pasang surut biasanya dibangun di muara sungai atau di pantai dimana terjadi pertemuan antara air sungai dengan air laut, ketika ombak masuk atau keluar (terjadi pasang surut) air mengalir  melalui terowongan yang terdapat di dam, air yang masuk atau keluar dapat memutarkan turbin.

Skema Kerja Dam Energi Pasang Surut

Ombak masuk ke muara sungai ketika terjadi pasang naik air laut
Ketika surut air mengalir keluar dari dam menuju laut sambil memutar turbin

2. Turbin Lepas Pantai (Offshore Turbines)

Bermacam-macam jenis turbin lepas pantai yang digerakkan oleh arus pasang surut. Pilihan lainnya ialah menggunakan turbin lepas pantai yang lebih menyerupai pembangkit listrik tenaga angin versi bawah laut. Keunggulannya dibandingkan metode pertama yaitu: lebih murah biaya instalasinya, dampak lingkungan yang relatif lebih kecil daripada pembangunan dam, dan persyaratan lokasinya pun lebih mudah sehingga dapat dipasang di lebih banyak tempat.

Macam-macam jenis turbin lepas pantai yang digerakkan oleh arus pasang surut.

Energi dari fenomena pasang-surut ini diambil dengan memanfatkan perbedaan ketinggian permukaan air laut ketika pasang dan ketika surut, dan arus yang terjadi ketika air laut bergerak naik pada waktu pasang dan arus yang terjadi ketika air laut bergerak turun pada waktu surut. Perbedaan ketinggian permukaan air laut dapat dimanfaatkan dengan cara membuat bendungan di mulut terul atau estuari. Sementara itu, arus yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan baling-baling Turbin.

Turbin di san francisco mampu menyediakan listrik hingga 400 MW

Turbin arus laut

Ukuran turbin yang dinamakan AK1000 tersebut memang sangat besar. Beratnya sendiri mencapai 130 ton dan mempunyai ketinggian 22 meter lebih dengan diameter bilah rotor membentang selebar 18 meter,karena digunakan untuk energi pasang surut  laut,maka AK1000 menggunakan dua set bilah rotor yang saling membelakangi.

Meski dengan kecepatan putaran rotor yang rendah yaitu sekitar enam hingga delapan putaran per menit, turbin tersebut bisa menghasilkan 1 MegaWatt dan lebih aman bagi ekosistem laut di sekitarnya.

Turbin Laut

A.Kelebihan

  • Setelah dibangun energi pasang surut dapat diperoleh secara gratis
  • Tidak menghasilkan gas rumah kaca atau pun limbah lainnya
  • Tidak membutuhkan bahan bakar
  • Biaya operasi rendah
  • Produksi listrik stabil
  • Pasang surut air laut dapat diprediksi

B. Kekurangan

  • Sebuah dam yang menutupi muara sungai memiliki biaya pembangunan yang sangat mahal, dan meliputi area yang sangat luas sehingga merubah ekosistem lingkungan baik ke arah hulu maupun hilir hingga berkilo-kilometer
  • Hanya dapat mensuplai energi kurang lebih 10 jam setiap harinya, ketika ombak bergerak masuk ataupun keluar.

Pengetahuan tentang pasang surut laut sangat diperlukan dalam transportasi perairan, kegiatan dipelabuhan, pembangunan daerah pesisir pantai,dsb. Karena sifat pasang laut sangat periodik, maka dapat diramalkan.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/pelabuhan/pasang-surut-air-laut

Struktur Beton Prategang

Struktur Beton Prategang

 1

Perkembangan bahan-bahan struktural dapat diuraikan dalam tiga lajur yang berbeda, seperti pada diagram dibawah ini

  • Lajur pertama menunjukkan bahan–bahan yang tahan terhadap tekanan, dimulai dari batu-bata, kemudian berkembang menjadi beton dan akhir–akhir ini menjadi beton yang berkekuatan tinggi.
  • Lajur kedua, menunjukkan bahan–bahan yang tahan terhadap tarikan, orang menggunakan bambu dan tambang, kemudian besi dan baja, dan akhir–akhir ini menjadi baja mutu-tinggi.
  • Lajur ketiga, memperlihatkan bahan–bahan yang tahan terhadap tarikan dan tekanan, yaitu lenturan. Pertama–tama digunakan kayu, kemudian baja struktural, beton bertulang dan akhirnya dikembangkan beton prategang

Prinsip dasar sistem prategang mungkin telah dipakai pada konstruksi berabad–abad yang lalu, pada waktu tali atau pita logam diikatkan mengelilingi papan kayu yang melengkung, yang membentuk sebuah tong. Pada kayu–kayu ke dalam sehingga mampu menahan tarikan akibat tekanan cairan dari dalam. Dengan kata lain, pita dan kayu sudah mendapat tegangan sebelum dibebani.

Pada tahun 1886, ketika P.H Jackson, seorang insinyur dari San Fransisco, California, mendapatkan hak paten untuk pengikatan batang baja-pengikat ke batu-batuan dan busur beton yang berfungsi sebagai pelat lantai. Sekitar tahun 1888, C.E.W Doehring dari Jerman secara perorangan mendapatkan hak paten untuk beton yang diperkuat dengan logam yang telah ditarik sebelum pelat dibebani. Pemakaian ini berdasarkan konsep bahwa beton, walaupun kuat terhadap tekanan, lemah terhadap tarikan, dan dengan menarik baja serta menahannya ke beton akan membuat beton tertekan yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengimbangi tegangan tarik yang dihasilkan oleh beban mati ataupun beban hidup.

Tetapi gaya prategang yang diterapkan dalam waktu yang singkat menjadi hilang akibat susut dan rangkak pada beton, karena rendahnya mutu dan kekuatan baja. Pada tahun 1908, C.R. Steiner dari Amerika Serikat mengusulkan kemungkinan untuk mengencangkan kembali batang tulangan setelah beton menjalani penyusutan dan rangkak, untuk mengembalikan gaya yang hilang. Tahun 1925, R.E. Dill dari Nebraska mencoba baja mutu-tinggi yang dilapisi untuk mencegah rekatan dengan beton. Setelah beton mengeras, batang–batang baja ditarik dan diangkurkan ke beton dengan memakai baut. Tetapi cara ini tidak banyak dipakai, terutama karena masalah ekonomis.

Eugene Freyssinet dari Perancis  yang berjasa dalam perkembangan beton prategang modern, di tahun 1928 mulai menggunakan baja mutu-tinggi sebagai kabel prategang. Pada tahun 1940, Profesor G. Magel dari Belgia mengembangkan sistem Magnel, dimana dua buah kabel ditarik pada saat yang bersamaan dan diangkurkan dengan memakai pasak baja yang sederhana pada ujung–ujungnya. Pada tahun 1949/1950 dibangun jembatan beton prategang yang pertama dengan bentang 47 m , di Philadelphia (Walnut Lane Bridge).

Sekarang telah dikembangkan banyak sistem dan teknik prategang. Beton prategang sekarang telah diterima dan banyak dipakai, setelah melalui banyak penyempurnaan hampir pada setiap elemen struktur atau sistem bangunan didapatkan penerapan beto prategang, seperti misalnya : jembatan, komponen bangunan seperti balok, pelat dan kolom, pipa dan tiang pancang, terowongan, dan lain sebagainya. Dengan beton prategang dapat dibuat bentang yang besar tetapi langsing.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/struktur-beton/struktur-beton-prategang

Keragaman Bentuk Muka Bumi

Keragaman Bentuk Muka Bumi

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat berbagai macam fenomena bentukan alam seperti gunung, pantai, air terjun dan sungai. Semua bentukan alam tersebut terbentuk setelah melalui proses pembentukan yang cukup panjang dan dipengaruhi oleh tenaga yang berasal dari dalam bumi (endogen) maupun tenaga yang berasal dari luar bumi (eksogen).

Beberapa bentuk-bentuk yang terdapat di muka bumi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok antara lain :

Daerah Pantai

Pada daerah pantai terdapat beberapa macam bentukan, yaitu :

1. Teluk

Teluk adalah pantai yang bentuknya cekung ke arah daratan atau dapat disebut juga wilayah laut yang menjorok ke arah daratan. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa contoh dari teluk, yaitu Teluk Jakarta di Pulau Jawa, Teluk Bone dan Teluk Tomini di Pulau Sulawesi.

Wilayah Laut yang menjorok ke arah daratan disebut teluk (Sumber: CD Image, 2005)

2. Tanjung

Tanjung adalah wilayah daratan yang menjorok ke arah lautan. Apabila ukuran dari tanjung tersebut sangat luas, biasanya disebut dengan istilah Semenanjung. Contoh dari tanjung di Indonesia antara lain Tanjung Priok danTanjung Ujung Kulon di Pulau Jawa, di Pulau Sumatera terdapat contoh lainnya yaitu Tanjung Jabung.

Daratan yang menjorok ke arah laut disebut tanjung, yang merupakan kebalikan dari teluk (sumber: CD Image, 2005)

3. Delta

Delta adalah daratan yang terletak di muara sungai. Proses pembentukan Delta dipengaruhi oleh kegiatan sedimentasi sungai. Delta biasanya terdapat di muara sungai-sungai besar karena materi yang tersedimentasikan banyak, maka delta yang terbentuk pun akan cukup luas. Contoh delta di Indonesia antara lain Delta Sungai Kapuas dan Delta Sungai Mahakam di Kalimantan.

Dataran Rendah

Dataran Rendah dapat diartikan sebgai sebuah wilayah yang memiliki karakter landai dan datar juga terletak pada ketinggian yang tidak melebihi 500 meter diatas permukaan laut (m dpl). Contoh dari dataran rendah adalah wilayah Pantura atau Pantai Utara Jawa.

Wilayah Pantura adalah contoh dari dataran rendah di Pulau Jawa (sumber: Microsoft Encharta, 2008)

Pada dataran rendah, penggunaan lahan yang dominan adalah pertanian sawah, selain itu pula pada wilayah dataran rendah yang mendekati laut dan juga dekat dengan muara sungai terdapat rawa-rawa seperti yang terdapat di daerah Pantura dan sebelah utara dari Pulau Sumatera.

Dataran Tinggi

Dataran Tinggi adalah wilayah yang bentuknya datar, bergelombang dan berbukit-bukut dengan kisaran ketinggian pada lebih dari 500 m dpl hingga 1.500 m dpl.Dataran tinggi yang luas berpuncak datar dan biasanya dikelilingi oleh lereng yang curam dinamakan Plato (Plateau). Beberapa dataran tinggi yang terdapat di Indonesia adalah dataran tinggi Dieng di Jawa Timur dan juga dataran tinggi di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.

Pegunungan

Daerah pegunungan merupakan daerah yang terdiri atas bukit-bukit dan gunung-gung sehingga tampak membentuk suatu lingkaran (sirkum). Ada dua sistem pegunungan atau sirkum di muka bumi ini, yaitu :

1. Sirkum Mediterania

Sirkum Mediterania ini berawal dari Pegunungan Alpen di Eropa dan kemudian menyembung ke sebelah timur hingga Pegunungan Himalaya di Asia dan masuk ke wilayah Indonesia melalui wilayah Sumatera dan menyambung ke Jawa hingga mencapai Kepulauan Maluku.

Garis merah putus-putus merupakan Jalur Sirkum Mediterania (sumber: Microsoft Encharta, 2008)

2. Sirkum Pasifik

Sirkum Pasifik berawal dari barisan Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan berlanjut ke Pegunungan Rocky di belahan Amerika Utara. Kemudian melalui wilayah Jepang hingga Filipina dan akhirnya masuk ke Indonesia melalui Pulau Sulawesi dan ada juga yang berbelok ke Halmahera dan berakhir di Papua.

Garis merah putus-putus merupakan Jalur Sirkum Pasifik (sumber: Microsoft Encharta, 2008)

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/pelabuhan/keragaman-bentuk-muka-bumi

Memanen Air Hujan Dengan Biopori

Memanen Air Hujan Dengan Biopori

59

Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara (1) meningkatkan daya resapan air, (2) mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), dan (3) memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.

Dengan adanya Lubang Resapan Biopori atau sistem drainase ramah lingkungan kita bisa melakukan pemanfaatkan air hujan yang jatuh kepermukaan bumi agar tidak terbuang sia-sia ke sungai maupun laut. Membuat adanya Lubang Resapan Biopori memang tidak serta merta mengatasi masalah krisis air tanah. Tetapi paling tidak dengan adanya pembuatan ini dapat lebih cepat mengalirkan air permukaan ke dalam tanah. Jadi, selain menambah pasokan air di dalam tanah, biopori ini juga bisa mengurangi banjir.

Maksud dan tujuan dari pembuatan dari Lubang Resapan Biopori ini adalah untuk memanen air hujan dan membantu tanah dalam menyerap / meresapkan air hujan. Dimana dengan adanya penyerapan ini akan :

  1. Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah.
  2. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar.
  3. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit.
  4. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.
  5. Mengurangi resiko banjir di musim hujan.
  6. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.
  7. Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

1. Meningkatkan Daya Resapan Air

Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm 2 atau hampir 1/3 m 2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm 2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm 2.

Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.

2. Mengubah Sampah Organik Menjadi Kompos

Lubang resapan biopori “diaktifkan” dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai kompos.. Dengan melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai “pabrik” pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman/sayuran organik maka kompos dari LRB adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk sayurannya.

3. Memanfaatkan Fauna Tanah dan atau Akar Tanaman

Seperti disebutkan di atas. Lubang Resapan Biopori diaktikan oleh organisme tanah, khususnya fauna tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan rongga-rongga atau liang-liang di dalam tanah yang akan dijadikan “saluran” air untuk meresap ke dalam tubuh tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka rongga-rongga atau liang-liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan sangat menghemat tenaga dan biaya. Kewajiban faktor manusia dalam hal ini adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam tanah. Dengan hadirnya lubang-lubang resapan biopori dapat dicegah adanya genangan air, sehingga berbagai masalah yang diakibatkannya seperti mewabahnya penyakit malaria, demam berdarah dan kaki gajah (filariasis) akan dapat dihindari.

Cara Membuat Lubang Resapan Biopori

Lubang resapan biopori dibuat ditempat yang bebas dari lalu-lalang orang terutama anak-anak. Oleh karena itu penempatannya harus diatur sedemikian rupa dan disesuaikan dengan landscape yang ada. Karena fungsinya sebagai peresap air maka penempatan biopori dilakukan di lokasi dimana air secara alami akan cenderung berkumpul atau air tersebut diarahkan ke tempat dimana lubang resapan biopori berada. Air dapat diarahkan dengan membuat alur.

Alat dan bahan yang digunakan / dipersiapkan pada pembuatan Lubang Resapan Biopori ini yaitu :

  1. Bor tangan ( Hand bore )
  2. Linggis
  3. Pipa Ø 10 cm dengan panjang 1 m ( @ LRB )
  4. Sampah organik

Langkah – langkah yang dilakukan untuk pembuatan lubang resapan biopori ini adalah sebagai berikut :

  1. Lubangi pipa yang telah dipersiapkan ( Ø 10 cm dengan panjang 1 m ) dengan paku atau bor mesin yang jumlah lubangnya bisa ditentukan dengan rumus =  intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air perlubang (liter / jam).
  2.  Tentukan lokasi lubang resapan  biopori yang diinginkan. Jika tanah kering basahi terlebih dahulu agar proses pengeboran lebih mudah.
  3. Buat lubang silindris ke dalam tanah ukuran diameter 10 cm dengan hand bore dengan cara  posisikan bor tegak lurus permukaan tanah, Putar bor searah jarum jamsambil di beri tekanan seperlunya.
  4.  Bila seluruh mata bor sudah terisi tanah, tarik bor ke atas sambil terus memutarnya searah jarum jam.
  5. Bersihkan mata bor yang berisi tanah kemudian masukkan lagi bor kedalam lubang yang telah terbentuk.
  6. Ulangi langkah 3-4, hingga lubang mencapai kedalaman 100 cm kemudian masukan pipa kedalam lubang yang telah terbentuk.
  7. Isi lubang dengan sampah organik dari daun-daun kering.

Agar  Lubang Resapan Biopori yang dibuat tetap berkerja secara optimal, maka perlu dilakukan pemeliharaan pada Lubang Resapan Biopori tersebut dengan cara :

  1. Memasukkan sampah organik secara berkala pada saat terjadi penurunan volume sampah organik pada lubang resapan biopori
  2. Mengambil sampah organik yang ada dalam lubang resapan biopori setelah menjadi kompos yang diperkirakan 2 – 3 bulan telah terjadi proses pelapukan

    Pelubangan pipa secara manual, menggunakan obeng
Pelubangan pipa menggunakan mesin bor
Pipa biopori dan tutupnya yang telah dilubangi
Alat yang digunakan untuk membuat lubang biopori (Hand Bore)
Pelubangan tanah menggunakan hand bore, sebelumnya pilih tempat dan dibersihkan
Pengambilan tanah pada lubang yang tidak terambil dengan hand bore
Pengecekan kedalaman lubang menggunakan pipa biopori, sampai kedalaman yang cukup
Daun-daun kering sebagai pengisi pipa biopori
Pengisian pipa biopori dengan daun-daun kering
Penutupan lubang pipa biopori menggunakan tutup yang telah dilubangi
Penimbunan tanah disekitar pipa biopori agar pipa tegak dan tidak dicabut orang
Lubang peresapan (biopori) yang telah selesai

Flow Chart Pembuatan Biopori