Metode Analisis Saringan Sieve

1.      PENDAHULUAN

Partikel-partikel pembentuk struktur tanah pada dasarnya mempunyai ukuran dan bentuk yang beraneka ragam, baik pada tanah kohesif maupun tanah non-kohesif. Sifat suatu tanah banyak ditentukan oleh ukuran butir dan distribusinya. Sehingga di dalam mekanika tanah, analisa ukuran butir banyak dilakukan/dipakai sebagai acuan untuk mengklasifikasikan tanah.

Pengujian analisa butiran ini dilakukan dengan dua cara:
- Analisa Ayakan (sieve analysis)                     : untuk kandungan tanah yang berbutir kasar   
     (pasir, kerikil).
- Analisa hidrometer (hydrometer analysis)     : untuk kandungan tanah berbutir halus (lolos  
     ayakan No. 200).

2.      MAKSUD

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui ukuran butir dan susunan butir (gradasi tanah) yang tertahan saringan No. 200.

3.      PERALATAN

1.      Mesin pengguncang saringan (Shieve Shaker)
2.      Saringan (Sieve)
3.      Timbangan ketelitian 0,01 gram
4.      Talam

Gambar 1.1. Sleve Shaker Elektrik
KETERANGAN GAMBAR

1.      Palang penggantung
2.      Penggantung saringan
3.      Klem penjenpit Saringan
4.      Dudukan Saringan
5.      Tutup saringan
6.      Tiang
7.      Baut pengunci
8.      Saringan (sieve)
9.      Pan
10.  Saklar ON-OFF
11.  Box Mesin
12.  Stecker
13.  Scoope
14.  Sikat Halus
15.  Kuas
16.  Cawan

4.      PROSEDUR PERCOBAAN

3.1.   CARA KERING (A)

1.      Bersihkan masing-masing saringan + pan yang akan digunakan, kemudian timbang masing-masing saringan tersebut dan susun sesuai standart yang dipakai.
2.      Letakan susunan saringan tersebut diatas alat pengguncang.
3.      Keringkan benda uji dalam oven dengan temperatur 600 C sampai dapat digemburkan, atau dengan panas matahari, kemudian tumbuk dengan palu karet agar butirannya tidak hancur.
4.      Masukan benda uji kedalam susunan saringan kemudian ditutup.
5.      Kencangkan penjepit susunan saringan.
6.      Hidupkan motor penggerak mesin pengguncang 10-15 menit .
7.      Setelah dilakukan pengguncangan selama 10-15 menit, mesin pengguncang dimatikan. Biarkan selama 5 menit untuk memberi kesempatan debu-debu agar mengendap.
8.      Timbang berat masing-masing saringan beserta benda uji yang tertahan didalamnya, demikian pula halnya dengan pan.

3.2.   CARA BASAH (B)

1.      Contoh tanah dari lapangan dikeringkan (dijemur) atau dengan menggunakan alat pemanas lain dengan suhu tidak lebih dari 600 C. Tumbuk gumpalan-gumpalan tanah dengan menggunakan palu karet agar butiran-butirannya lepas.
Agar benda uji dapat mewakili, maka dilakukan cara seperempat atau dengan memasukan kedalam sample splitter.
2.      Timbang sample sebanyank 500 gram, masukan kedalam saringan no. 200 kemudian cuci sampai air kelihatan bersih. Keringkan sample tertahan saringan no. 200 tersebut didalam oven selama 24 jam dengan suhu 1100C.
3.      Susun atau set saringan sesuai dengan standar yang digunakan.
4.      Timbang masing-masing saringan tersebut dan sebelumnya dibersihkan dengan menggunakan sikat.
5.      Masukan sample yang tertahan saringan no.200 kedalam saringan yang telah tersusun, goncangkan dengan menggunakan sieve shaker (alat pengguncang) selama 10-15 menit, diamkan selama 5 menit agar sample mengendap.
6.      Timbang sample yang tertahan pada masing-masing saringan ,
7.      Hitung hasil keseluruhan.

5.      PERAWATAN

  1. Setelah selesai dipakai, segera bersihkan saringan tersebut dengan menggunakan sikat yang halus dan ditiup dengan kompressor.
  2. Lumas oli bagian-bagian yang bergerak secara berkala.
  3. Kencangkan semua baut yang kendur.
  4. Apabila goncangan terlalu keras dan berisik, putar sedikit tiang penggantung agar posisinyan segaris dengan snetrik. Atur ruang kosong antara sentrik dan coakan alas pengguncang agar tidak terlalu rapat lalu oleskan stempet secukupnya.
Proyek             : Pengujian Ayakan
Lokasi             : Laboratorium
Jenis Tanah      : Lanau
Tgl. Pengujian : 16 Januari 2015
Dikerjakan       :......
Diperiksa         :......



Presentase yang lolos
Ke 60 : D60 = 60/100 x 95,982 =57,5892

Pemeriksaan Lendutan Jalan dengan Alat Benkelman Beam


A.   MAKSUD DAN TUJUAN

Metode ini digunakan sebagai pegangan dalam pengujian perkerasan jalan dengan alat  Benkelman Beam yaitu dengan cara mengukur gerakan vertikal pada permukaan lapis jalan melalui pemberian beban roda yang diakibatkan oleh beban tertentu.
Tujuan dari pemeriksaan Benkelman Beam ini adalah untuk memperoleh data lapangan yang akan bermanfaat pada :

  1. Penilaian struktur perkerasan
  2. Perbandingan sifat-sifat struktural sistem perkerasan yang berlainan.

 B.   BENDA UJI

Permukaan aspal di jalan raya


C. PERALATAN

1. Truk dengan spesifikasi standar sebagai berikut :

–          Berat kosong truk (5 ± 01) Ton
–          Jumlah as 2 buah, dengan roda belakang ganda
–          Beban masing-masing roda belakang ban ganda yaitu (4,08 ± 0,045) Ton atau (9000 ± 100) Lbs
–          Ban dalam kondisi baik dan dari jenis kembang halus (zig-zag) dengan ukuran 25,4 x 50,8 cm atau 10 x 20 inchi
–          Tekanan angin ban (5,5 ± 0,0) kg/cm2 atau (80 ± 1) Psi
–          Jarak sisi kedua bidang kontak ban dengan permukaaan jalan antara 10-15 cm atau 4-6 inchi
2. Alat timbang muatan praktis yang dapat dibawa kemana-mana (Portable Weight Bridge) kapasitas 10 Ton.

  1. Alat Benkelman Beam terdiri dari dua batang yang mempunyai panjang total standar (366 ± 0,16) cm yang terbagi menjadi 3 bagian dengan perbandingan 1 : 2 sumbu 0 dengan perlengkapan sebagai berikut :

–          Arloji pengukur (dial Bouge) berskala mm dengan ketelitian 0,01 mm
–          Alat penggetar (Buzzar)
–          Alat pendatar (Waterpass)

  1. Pengukur tekanan yang dapat mengukur tekanan angin ban minimum 5 kg/cm2 atau 80 Psi.
  2. Termometer (5oC-70oC) dengan perbandingan skala 10C atau (40F-140F) dengan pembagian skala 1oF.
  3. Rol meter 30 m dan 3 m (100ft dan 10ft).
  4. Formulir lapangan dan hardboard).
  5. Minyak arloji pengukur dan alkohol murni untuk membersihkan batang arloji pengukur.
  6. Perlengkapan keamanan bagi petugas dan tempat pengujian :

–          Tanda batas kecepatan lalu lintas pada saat melewati tempat pengujian pada ditempatkan ±50 m didepan dan dibelakang truk.
–          Tanda penunjuk lalu lintas yang dapat dilewati.
–          Tanda lampu peringatan terutama bila pengujian malam hari.
–          Tanda pengenal kain yang dipasang pada truk dibagian depan dan belakang.
–          Tanda pengaman lalu lintas yang dipegang oleh petugas.
–          Pakaian khusus petugas yang warnanya dapat dilihat jelas oleh pengendara.


D. PELAKSANAAN

  1. Memasang batang pengukur Benkelman Beam sehingga menjadi sambungan kaku.
  2. Dalam keadaan batang pengukur terkunci, menempatkan Benkelman Beam pada bidang datar, kokoh dan rata misalnya pada lantai.
  3. Mengatur kaki sehingga Benkelman Beam dalam keadaan datar.
  4. Menempatkan alat penyetel pada alat yang sama dan mengatur sehingga alat berada dibawah tumit batang (TB) dari batang pengukur, kemudian mengatur landasan sehingga batang menjadi datar dan mantap.
  5. Melepaskan pengunci (P) atau batang pengukur atau menurunkan ujung batang perlahan-lahan hingga TB terletak pada penyetel.
  6. Mengatur arloji pengukur (AP2) Benkelman Beam pada kedudukannya hingga ujung arloji pengukur bersinggungan dengan batang pengukur, kemudian dikunci dengan kuat.
  7. Mengatur arloji pengukur alat penyetel (AP1) pada dudukannya hingga ujung batang arloji bersinggungan dengan batang pengukur tepat diatas TB kemudian dikunci dengan erat.
  8. Mengatur kedudukan batang arloji pengukur Benkelman Beam dan batang arloji alat penyetel, sehingga batang arloji dapat bergerak ± 5 mm
  9. Dalam kedudukan seperti h diatur kedua jarum arloji pengukur pada angka nol.
  10. Menghidupkan alat penggetar, kemudian menurunkan plat penyetel dengan memutar skrup pengatur, sehingga arloji pengukur pada formulir yang sudah tersedia dapat dibaca.
  11. Melakukan seperti j berturut-turut pada setiap penurunan batang arloji pengukur 0,25 mm sampai mencapai penurunan, mencatat pembacaan arloji pada setiap penurunan tersebut.
  12. Dalam keadaan kedudukan seperti k, menaikkan penyetel berturut-turut pada setiap kenaikan batang arloji pengukur 0,25 mm sampai mencapai kenaikan 2,5 mm (tumit batang kembali pada kedudukan normal).
  13. Hasil pembacaan arloji Benkelman Beam dikalikan dengan faktor skala batang Benkelman Beam (perbandingan jarak antara tumit batang sampai sumbu nol terhadap jarak antar sumbu nol sampai belakang ujung belakang batang pengukur) untuk alat Benkelman Beam yang umum digunakan dengan faktor perbandingan 1 : 2 maka pembacaan arloji tersebut dikalikan dengan 2.
  14. Jika pembacaan arloji Benkelman Beam berbeda dengan hasil pembacaan pada arloji alat penyetel berarti ada kemungkinan kesalahan pada alat seperti gesekan pada sumbu yang terlalu besar atau peluru-peluru sumbu yang terlalu longgar.
sumber : https://tekniksipil.id/pemeriksaan-lendutan-jalan-dengan-alat-benkelman-beam/

Pemeriksaan Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Kasar

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis agregat kasar serta kemampuannya menyerap air. Besarnya berat jenis yang diperiksa adalah untuk agregat dalam keadaan kering, berat kering permukaan jenuh ( Saturated Surface Dry ), berat jenis semu ( Apparent ).

Keterangan :
– Berat jenis ( Bulk Specific Grafity ) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suatu suhu tertentu.
– Berat jenis kering permukaan ( SSD ) yaitu perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
– Berat jenis semu ( Apparent Specific Grafity ) ialah perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
– Penyerapan adalah persentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat kering.

2. PERALATAN
– Timbangan kapasitas 5 Kg dengan ketelitian 0,1 % dari berat contoh yang ditimbang dan dilengkapi dengan alat
– penggantung keranjang.
– Keranjang kawat
– Bak perendam
– Oven, dilengkapi pengatur suhu untuk memanasi sampai ( 110 ± 5 )°C
– Alat pemisah contoh
– Saringan No. 4
– Pan

3. BENDA UJI
Benda uji adalah agregat yang tertahan saringan No. 4 diperoleh dari alat pemkisah contoh atau cara perempat, sebanyak kira – kira 2, 25 Kg.

4. PROSEDUR PERCOBAAN
– Cuci benda uji untuk menghilangkan debu atau bahan – bahan lain yang melekat pada permukaan.
– Keringkan benda uji dalam oven pada suhu 105°C sampai berat tetap.
– Dinginkan benda uji pada suhu kamar selama satu jam, kemudian menimbang dengan ketelitian 0,5 gram ( Bk ).
– Rendam benda uji dalam air pada suhu kamar selama ( 24 ± 4 ) jam.
– Keluarkan benda uji dari dalam air, lap dengan kain penyerap sampai selaput air pada permukaan hilang ( SSD ), untuk butiran yang besar pengering harus satu persatu.
– Timbang benda uji kering permukaan jenuh ( Bj ).
– Letakkan benda uji dalam keranjang, goncangkan batunya untuk mengeluarkan udara yang tersekap dan menentukan beratnya dalam air ( Ba ).
– Ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan ke suhu standar ( 25°C ).

5. PERHITUNGAN
– Berat jenis ( Bulk Specify Gravity ) = Bk/(Bj-Ba)
– Berat jenis SSD = Bk/(Bj-Ba)
– Berat jenis semu = Bk/(Bk-Ba)
– Penyerapan ( Arbsorbsi ) = (Bj -Bk )/Bk x 100 %

Dimana :
Bk = Berat Benda Uji Kering Oven ( gram )
Bj = Berat Benda Uji Kering Permukaan Jenuh ( gram )
Ba = Berat Benda Uji Kering Permukaan Jenuh di dalam Air ( gram )

6. LAPORAN
hasilnya dilaporkan dalam Form. PB – 0202 – 76, dengan bilangan desimal sampai dua angka di belakang koma.

7. HASIL PENGAMATAN

TABEL HASIL PEMERIKSAAN BERAT JENIS
DAN
PENYERAPAN AIR
AGREGAT KASAR

PB – 0202 – 76

PEMERIKSAAN I II RATA – RATA
Berat Benda Uji Kering Oven ( Bk ) 2, 250 2,250 2, 250
Berat Benda uji Kering Permukaan Jenuh ( SSD ) ( Bj ) 2, 496 2, 350 2, 423
Berat Benda Uji di dalam Air ( Ba ) 1, 472 1,384 1, 428
Berat Jenis ( Bulk ) Bk/(Bj-Ba) 2, 197 2,329 2, 263
Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh Bj/(Bj-Ba) 2, 437 2, 432 2, 434
Berat Jenis Semu ( Apparent ) Bk/(Bk-Ba) 2, 892 2, 598 2, 745
Penyerapan ( Arbsorption ) (Bj-Bk)/Bk x 100 % 10, 93 % 4, 44 % 7, 68 %

8. PENGOLAHAN DATA

I. – Berat Jenis ( Bulk ) = Bk/(Bj-Ba) = (2,250)/(2,496 -1,472) = 2, 197

– Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh = Bj/(Bj-Ba) = (2,496)/(2,496 -1,472) = 2, 437

– Berat Jenis Semu ( Apparent ) = Bk/(Bk-Ba) = (2,250)/(2,250 -1,472) = 2, 892

– Penyerapan ( Arbsorption ) = (Bj-Bk)/Bk x 100 % = (2,496 – 2,250 )/(2,250) x 100 %

= 10, 93 %

II. – Berat Jenis ( Bulk ) = Bk/(Bj-Ba) = (2,250)/(2,350 -1,384) = 2, 329

– Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh = Bj/(Bj-Ba) = (2,350)/(2,350 – 1,384) = 2, 432

– Berat Jenis Semu ( Apparent ) = Bk/(Bk-Ba) = (2,250)/(2,250 – 1,384 ) = 2, 892

– Penyerapan ( Arbsorption ) = (Bj-Bk)/Bk x 100 % = (2,350 – 2,250 )/(2,250) x 100 %

= 7, 685 %

9. GAMBAR PERALATAN

10. KESIMPULAN
percobaan “ Berat Jenis dan Penyerapan Air pada Agregat Kasar “, maka dapat disimpulkan bahwa Agregat Kasar yang diperiksa memiliki Berat Jenis rata – rata sebesar 2, 434. Dan memiliki nilai Penyerapan rata – rata sebesar 7, 685 %.

sumber : 
https://ikanbodoh.wordpress.com/2014/04/16/pemeriksaan-berat-jenis-dan-penyerapan-agregat-kasar-2/

Metode Pemeriksaan Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Halus


1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis ( Bulk Specific Grafity ) agregat halus serta kemampuannya menyerap air. Besarnya berat jenis yang diperiksa adalah untuk agregat dalam keadaan kering, berat kering permukaan jenuh ( Saturated Surface Dry ), berat jenis semu

( Apparent Specific Grafity ).

Keterangan :
– Berat jenis ( Bulk Specific Gravity ) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suatu suhu tertentu.
– Berat jenis kering permukaan ( SSD ) yaitu perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
– Berat jenis semu ( Apparent Specific Gravity ) ialah perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
– Penyerapan adalah persentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat kering.

2. PERALATAN
– Timbangan.
– Kerucut terpancung ( Cone ) diameter bagian atas ( 40 ± 4 ) mm dan diameter bagian dalam ( 90 ± 3 ) mm, tinggi ( 75,3 ± 3 ) mm. Yang terbuat dari logam.
– Batang penumbuk.
– Oven.
– Piknometer ( Labu Ukur ) 500 ml.
– Saringan No. 4.
– Nampan

3. BENDA UJI
Benda uji adalah agregat yang tertahan saringan No. 4 diperoleh dari alat pemisah contoh sebanyak kira – kira 500 gram.

4. PROSEDUR PERCOBAAN
– Keringkan benda uji dalam oven dengan suhu 110°C, sampai berat tetap. Yang dimaksud berat tetap adalah keadaan berat benda uji selama 3 ( tiga ) kali proses penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan selang waktu 2 jam berturut – turut, tidak mengalami perubahan berat lebih besar dari 0, 1 %. Dinginkan pada suhu ruang kemudian rendam dalam air selama ±24 jam.
– Buang air perendam secara hati – hati, jangan ada butiran yang hilang, menebarkan agregat di atas talam, keringkan di udara panas dengan cara membolak – balikkan benda uji. Lakukan pengeringan sampai tercapai keadaan kering permukaan jenuh.
– Pemeriksaan kedaan kering permukaan jenuh dengan mengisikan benda ke dalam kerucut terpancung, padatkan dengan batang penumbuk sebanyak 25 kali, kemudian angkat kerucut terpancung. Keadaan kering permukaan jenuh tercapai bila benda uji runtuh, tetapi masih dalam keadaan tercetak.
– Segera setelah tercapai keadaan kering permukaan jenuh, masukkan 500 gram benda uji ke dalam piknometer. Masukkan air suling sampai 90 % isi piknometer, putar sambil diguncang sampai tidak terlihat gelembung udara di dalamnya. Untuk mempercepat proses ini dapat dipergunakan pompa hampa udara, tetapi harus diperhatikan jangan sampai ada air yang ikut terhisap, atau dapat juga dilakukan dengan merebus piknometer.
– Rendam piknometer dalam air dan ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan ke suhu standar 25°C.
– Tambahkan air sampai mencapai tanda batas.
– Timbang piknometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0, 1 gram ( Bt ).
– Keluarkan benda uji, keringkan dalam oven dengan suhu ±110°C sampai berat tetap, kemudian dinginkan benda uji.
– Setelah benda uji dingin, kemudian timbanglah ( Bk ).
– Tentukan berat piknometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna penyesuaian dengan suhu standar 25°C ( B ).

5. PERHITUNGAN
– Berat jenis ( Bulk Specify Grafity ) = Bk/(B+500-Bt)
– Berat jenis SSD = 500/(B + 500 – Bt)
– Berat jenis semu = Bk/(B+ Bk – Bt)
– Penyerapan ( Absorbsi ) = (500 -Bk )/Bk x 100 %
Dengan :
Bk = Berat benda uji Kering Oven
Bt = Berat labu Ukur + air
B = Berat labu Ukur + Air
500 = Berat Benda Uji dalam Keadaan Kering Permukaan

6. LAPORAN
Hasilnya dilaporkan dalam form PB – 0203 – 76, dengan bilangan desimal sampai dua angka di belakang koma.

7. HASIL PENGAMATAN

TABEL
HASIL PEMERIKSAAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR PADA AGREGAT HALUS
PEMERIKSAAN I II RATA – RATA
Berat Benda Uji Kering Permukaan Jenuh ( SSD ) ( 500 ) 500 – –
Berat Benda Uji Kering Oven ( Bk ) 487, 7 – –
Berat Piknometer diisi Air ( 25°C ) 868 – –
Berat Piknometer + Benda Uji ( SSD ) + Air ( 25°C ) (Bt ) 1089 – –
Berat Jenis ( Bulk Specify Grafity ) Bk/(B+500-Bt) 1, 748 – –
Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh 500/(B + 500 – Bt) 1, 792 – –
Berat Jenis Semu ( Apparent Specific Grafity ) Bk/(B+ Bk – Bt) 1, 828 – –
Penyerapan ( Arbsorption ) (500 -Bk )/Bk x 100 % 2, 52 – –

8. PENGOLAHAN DATA
– Berat Jenis ( Bulk Specify Grafity ) = Bk/(B+500-Bt) = (487,7)/(868 + 500 – 1089)= 1, 748

– Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh = 500/(B + 500 – Bt) = 500/(868 + 500 – 1089) = 1, 792

– Berat Jenis Semu ( Apparent Specific Grafity ) = Bk/(B+ Bk – Bt) = (487, 7)/(868+ 487,7 – 1089)= 1,828

– Penyerapan ( Arbsorption ) = (500 -Bk )/Bk x 100 % = (500 -487,7 )/(487,7) x 100 %
= 2, 52 %

9. KESIMPULAN
Jadi, berdasarkan percobaan yang telah dilaksanakan didapatkan bahwa Agregat Halus tersebut memiliki nilai Berat Jenis ( Bulk ) sebesar 1,748 dan memiliki nilai Penyerapan ( Arbsorption ) sebesar 2,52 %.

sumber : https://ikanbodoh.wordpress.com/2014/04/16/pemeriksaan-berat-jenis-dan-penyerapan-agregat-halus/

Metode Pengujian Batas Cair Tanah (Liquid Limit)

A. Tujuan 

 Mencari kadar air pada batas antara keadaan cair dengan cara Cassagrandee, yang akan digunakan untuk menentukan sifat dan klasifikasi tanah.

rangkumantekniksipil.blogspot.com

 B. Dasar Teori 

Batas cair tanah adalah keadaan antara cair dan plastis/keadaan air tanah bisa diputar 25 kali ketukan dengan alat Cassagrande, tanah sudah dapat merapat (sebelumnya terpisah dalam jalur yang dibuat dengan solet). Batas cair didefinisikan sebagai kadar air yang paling rendah dimana tanah berada dalam keadaan cair atau suatu keadaan dimana tanah berubah dari keadaan cair menjadi plastis. Batas cair dalam persen berat kering, dimana kedua penampang tanah yang hampir bersentuhan tetapi tidak saling melimpahi satu terhadap yang lain. 

 C. Alat dan Bahan 

1. Alat batas cair standart (Atterberg) 
2. Alat pembuat alur (grooving tool) 
3. Spatula 
4. Botol, berisi air suling (botol semprot) 
5. Mangkuk porselin 
6. Tin box/cawan 
7. Desicator 
8. Oven 
9. Neraca 

 D. Cara Kerja 

  1. Siapkan mangkok batas cair, bersihkan dari lemak atau kotoran yang menempel dengan menggunakan eather. 
  2. Atur ketinggian jatuh mangkuk, dengan cara sebagai berikut : 
  3. - >>Kendurkan kedua baut penjepit, lalu putar handel/tuas pemutar sampai posisi mangkuk mencapai tinggi jatuh setinggi 10 mm. 
  4. - >>Untuk menentukan tinggi jatuh mangkuk, kendurkan baut belakang, angkat mangkuk masukkan bagian ujung tungkai pemutar alur ASTM tepat masuk diantara dasar mangkuk dan alasnya, kencangkan kembali baut bagian belakang. 
  5. Ambil sampel tanah sekitar 100 gram yang lolos saringan no.40 lalu letakkan didalam mangkuk porselin. 
  6. Tambahkan air suling sedikit demi sedikit, aduklah sampel tanah tersebut menggunakan spatula sampai homogeny. 
  7. Setelah mendapat campuran yang homogeny, ambil sampel tanah tersebut, masukkan kedalam mangkuk alat batas cair. Ratakan permukaannya sehingga sejajar dengan dudukan alat. Bagian yang paling tebal harus ± 1 m. 
  8. Buatlah alur dengan jalan membagi dua benda uji dalam mangkuk tersebut, gunakan alat pembuat alur (grooving tool) melalui garis tengah mangkuk secara simetris dengan posisi tegak lurus permukaan mangkuk. 
  9. Putarlah tuas/handel pemutar dengan kecepatan 2 putaran perdetik (dalam 1 detik mangkuk jatuh 2 kali) sampai kedua sisi tanah bertemu sepanjang ½ “ (12.5 mm). Catat jumlah pukulan yang terjadi untuk mencapai kondisi yang bersinggungan tersebut. 
  10. Ambil sebagian benda uji dari mangkuk tersebut dengan menggunakan spatula, masukkan ke dalam cawan, tentukan kadar ai tanah. 
  11. Ulangi prosedur pengujian mulai dari prosedur no. 4 s/d no.7 dengan variasi penambahan air yang berbeda. 

E. Pembahasan 

      Batas cair tanah yaitu jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah.Hal ini berbeda dengan istilah kapasitas lapang yang menunjukkan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan tanah dalam keadaan alami. 

   Pada hasil percobaan menggunakan Cassagrande di peroleh data cawan 1 timbang kosong mempunyai berat 6,7 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 38,7 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 30,6 gr. Pada cawan 2 timbang kosong mempunyai berat 6,7 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 20,2 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 17,4 gr. Pada cawan 3 timbang kosong mempunyai berat 6,5 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 30 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 25,6 gr. Pada cawan 4 timbang kosong mempunyai berat 5,7 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 25,4 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 22 gr. 

    Dari hasil percobaan cassagrande (batas cair) diperoleh data kadar air (Ka) untuk cawan 1 = 33,89%, cawan 2 = 26,17%, cawan 3 = 23,04% dan cawan 4 = 20,86%. Dengan ketukan masing-masing sebesar 12,15,34 dan 37. Pada kadar air % sampel tanah pada cawan 1 akan mengalami perubahan konsistensi dari plastis menjadi cair. 

      Pengolahan tanah seharusnya pada kandungan air tanah yang tepat, yaitu tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Faktor tumbuhan dan iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah air yang dapat diadsorpsi dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan ketahanan pada kekeringan, keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor tumbuhan yang berarti. 

    Temperatur dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukan tanah. Diantara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. tekstur kasar mempu menahan air yang lebih kecil daripada tanah yang teksturnya halus.. (Hardjowigeno, S., 1987)

rangkumantekniksipil.blogspot.com


F. Kesimpulan 

        Bahwa nilai batas cair tanah (Liquid Limit) dapat dilihat dari besaran kadar air dalam persen yang ditentukan dari 25 pukulan pada pengujian batas cair maka nilai kadar air tersebut dapat dilihat dari grafik yang telah dibuat yaitu

        Dari peroleh persamaan grafik tersebut bahwa semakin kecil ketukan maka makin banyak kadar airnya, sebaliknya semakin banyak ketukannya maka semakin sedikit kadar airnya.

sumber : http://rangkumtekniksipil.blogspot.com/2017/07/metode-pengujian-batas-cair-tanah.html

SIfat Beton

SIfat Beton
Faktor Air Semen

Beton adalah campuran antara air, agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), dan juga semen. Beton mempunyai sifat antara lain kekuatan, berat jenis, modulus elastisitas, kerapatan air, ketahanan terhadap aus, cuaca, zat kimia, dll

Kekuatan beton

Beton bersifat getas, mempunyai kuat tekan tinggi namun kuat tariknya rendah.

Pada dasarnya kuat tekan beton tergantung pada 3 hal, yaitu :

  1. Kekuatan pasta (semen dan air)
  2. Daya rekat antara pasta dengan butir agregat
  3. Kuat tekan agregat

Secara lebih rinci kuat tekan beton dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :

  1. Umur beton
  2. Fas (faktor air semen)
  3. Kepadatan
  4. Jumlah pasta semen
  5. Jenis semen
  6. Sifat agregat

1. Umur beton

Kuat tekan beton makin tinggi dengan bertambahnya umur beton. Laju kenaikan kuat tekan mula-mula cepat, lama-lama makin lambat, laju kenaikan menjadi relatif sangat kecil setelah berumur 28 hari, maka standar kuat tekan beton adalah pada umur 28 hari.

Laju kenaikan dipengaruhi oleh beberapa faktor :

  • Jenis semen
  • Fas
  • Suhu sekeliling

2. Fas (faktor air semen)

Fas merupakan perbandingan berat antara air dan semen portland di dalam campuran beton.

Hubungan antara fas dengan kuat tekan beton secara umum menurut Duff Abrams adalah sebagai berikut :

Faktor Air Semen
Faktor Air Semen

3. Kepadatan

Kuat tekan beton berkurang jika kepadatan berkurang. Beton yang kurang padat berarti di dalam beton berisi rongga rongga sehingga kuat tekannya berkurang.

4. Jumlah pasta semen

Fungsi pasta semen untuk merekatkan butir butir agragat. Pasta semen berfungsi maksimal jika seluruh pori antar butir agragat terisi penuh dengan pasta semen.

Jika pasta semen terlalu banyak maka kuat tekan didominasi oleh pasta, bukan agregat. Umumnya kuat tekan pasta semen lebih rendah dari agregat.

5. Jenis semen

Masing masing jenis semen mempunyai sifat tertentu sehingga akan mempengaruhi terhadap kuat tekan beton.

6. Sifat agregat

Agregat terdiri dari agregat halus (pasir dan agregat kasar (kerikil atau batu pecah)

Sifat agregat yang mempengaruhi kekuatan beton antaranya:

  • Kekasaran permukaan
  • Bentuk agragat
  • Kuat tekan agregat

Berat jenis beton

Menurut berat jenisnya beton dapat dibagi menjadi :

  • Beton ringan, Bj < 1,9
  • Beton normal, Bj 2,2 – 2,5
  • Beton berat, Bj > 3

Modulus elastisitas beton

  • Modulus elastisitas beton dipengaruhi oleh modulus elastisitas agregat dan pastanya.
  • Modulus elastisitas dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Modulus Elastisitas
Modulus Elastisitas

Susut pengerasan beton

Volume beton setelah keras sedikit lebih kecil dari volume sewaktu masih segar, karena selama mengeras mengalami penyusutan yang disebabkan oleh penguapan air.

Yang susut adalah pastanya, agregat tidak susut karena tidak berubah volume. Susutan beton sekitar 2.10-3, sedangkan susutan pasta sekitar 6.10-3. Untuk mengurangi susut yang tidak terarah biasanya dibuat celah celah pada jarak tertentu.

Kerapatan air (kedap air)

Bagian bangunan yang diharapkan tidak kedap air antara lain :

  • Plat atap
  • Dinding basement
  • Tandon air
  • Kolam renang

Kedap air juga berfungsi supaya tulangan yang ada di dalam beton tidak berkarat

Pembuatan beton kedap air dengan cara :

  • Menambah butiran pasir halus
  • Menambah jumlah semen ( 280 – 380 kg per m3 )
  • Fas sekitar ( 0,4 – 0,5)
  • Memakai jenis semen tertentu

Ketahanan beton terhadap aus dan kejut

Pada bangunan tertentu diharapkan mempunyai ketahanan terhadap :

  • Ausan
  • Abrasi
  • Erosi

Pada bangunan ini biasanya menggunakan beton khusus. Bangunan tersebut antara lain :

  • Perkerasan jalan raya
  • Landasan pesawat terbang
  • Permukaan bendung
  • Dasar saluran
  • Dasar terjunan
sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/struktur-beton/sifat-beton